Beranda » Tradisi » Makna Hari Raya Nyepi ( Tahun Baru Caka ) Dalam Agama Hindu
Makna Hari Raya Nyepi

Hari Raya Nyepi dalam perspektif kehinduan adalah  permohon  kehadapan  Tuhan  Yang Maha Esa untuk  menyucikan  Bhuana Alit  (alam  manusia)  dan  Bhuana  Agung  (alam semesta).

Hari Raya Nyepi menjadi perayaan Tahun Baru caka Hindu berdasarkan kalender Caka (Tahun Baru Hindu Bali) dirayakan oleh umat Hindu selama enam hari, dimulai sejak tahun 78 Masehi, yang dipercayai menjadikan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari (amerta) air hidup.

Nyepi secara harfiah bermakna “tetap hening” dan jatuh di hari setelah bulan mati pada masa semi ketika siang dan malam rata-rata memiliki durasi yang sama. Tujuan utama Hari Raya Nyepi dalam perspektif kehinduan adalah  permohon  kehadapan  Tuhan  Yang Maha Esa untuk  menyucikan  Bhuana Alit  (alam  manusia)  dan  Bhuana  Agung  (alam semesta).

Rangkaian Hari Raya Nyepi

1. Melasti

“Melasti ngarania ngiring prewatek dewata anganyutaken laraning jagat papa klesa letuhing bhuwana” [Lontar Sang Hyang Aji Swamandala]. Melasti adalah upakara penyucian alam semesta secara niskala.

Untuk menghanyutkan penderitaan masyarakat [laraning jagat], menghilangkan penderitaan bathin [papa klesa] dan mengharmoniskan vibrasi energi negatif alam semesta [letuhing bhuwana].

Upakara mapeed dalam melasti bertujuan menyucikan secara spiritual lingkungan desa dan sekitarnya. Penyucian ini dilakukan dengan menghadirkan pratima dan simbol-simbol suci [pratima adalah “linggih” atau titik pusat dari vibrasi energi suci alam semesta] dibawa berkeliling desa.

“Amet sarining amertha kamandalu ring telenging segara” [Lontar Sundarigama]. Kemudian pratima dan simbol-simbol suci ini dibawa ke laut [atau boleh juga di beji / pathirtan], untuk mengambil sari pati energi suci kehidupan dari tengah samudra atau dari beji / pathirtan [mata air suci]. Melasti berasal dari kata : “mala” [keletehan] dan “asti” [dilebur].

2. Tawur ( Pencaruan ) & Pengrupukan

Tawur atau pecaruan merupakan upakara pemarisuda butha kala [mahluk dengan kekuatan-kekuatan negatif di alam semesta]. Dengan penuh welas asih kita doakan para mahluk-mahluk bawah tersebut agar mereka bisa terlepas dari alam bhur dan dapat naik tingkat terlahir menjadi mahluk yang lebih baik. Atau paling tidak agar hubungan antara bhur loka [alam bawah] dan bvah loka [alam tengah] kembali somya [harmonis] dan tidak saling mengganggu satu sama lain. 

“Amantukaken buta kala kabeh dan angunduraken sasab merana” [Lontar Sundarigama]. Ketika kita natab caru pabiakalan, itu adalah sebuah yajna yang bertujuan nyomia, mengembalikan sifat-sifat negatif bathin para bhuta kala kepada keharmonisan.

Baca Juga : Makna & Tujuan Upacara Ngaben Dalam Hindu

Unsur-unsur kekuatan  negatif adalah kekuatan Rajas dan Tamas yang bergejolak. Kekuatan yang bergejolak itu perlu diharmoniskan kembali. Prosesi pengerupukan adalah kekuatan yang bergejolak ini [yang diwujudkan], lalu kekuatan yang bergejolak ini dipralina [diwujudkan dengan dibakar], sehingga kembali harmonis. Rangkaian prosesi ini adalah mantra yang diwujudkan dalam bentuk fisik. Tujuannya agar lebih kuat, sehingga apa yang diharapkan dapat lebih mudah terwujud [tercapai tujuan].

Dan prosesi pengerupukan ini juga memiki tujuan untuk mem-pralina seluruh kegelapan bathin yang ada pada semua mahluk, termasuk kegelapan bathin kita sendiri, sehingga menjadi harmonis. Dari sini terbukalah gerbang menuju keheningan.

3. Nyepi

Dilakukan dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian.

  • Amati Geni : tidak berapi-api, tidak menggunakan atau menghidupkan api
  • Amati Karya : tidak bekerja
  • Amati Lelungan : tidak bepergian
  • Amati Lelanguan : tidak berfoya-foya atau bersenang-senang.

Serta bagi yang mampu juga melaksanakan puasa 24 jam, tapabratayoga, dan semadhi.

Hal ini bertujuan untuk menyucikan dan intropeksi diri dengan cara benar-benar melepas semua keduniawian selama sehari. Merenung kesalahan dan dosa-dosa yang telah dilakukan tahun sebelumnya yang nantinya akan memberikan kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan dan godaan kehidupan pada tahun yang baru.

4. Ngembak Geni

Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Bari Saka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada “pinanggal ping kalih” (tanggal 2) sasih kedasa (bulan X). Diawali pagi hari dengan bersembahyang bersama di pura desa dan dilanjutkan Dharma Shanti dengan keluarga besar dan tetangga (kurang lebih sama seperti berlebaran Hari Raya Idul Fitri), mengucap syukur dan saling memaafkan (ksama) satu sama lain, untuk memulai lembaran tahu baru yang bersih.

Inti dari Dharma Shanti adalah filsafat Tattwamasi yang memandang bahwa semua manusia di seluruh penjuru bumi sebagai ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa hendaknya saling menyayangi satu dengan yang lain, memaafkan segala kesalahan dan kekeliruan.

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.

error: